Beda Selera Musik Itu Wajar

 

Pop Patriotics, kalo ngomongin soal selera musik, kalian suka genre musik yang kaya gimana sih? Suka genre jazz yang nenangin gitu, suka genre techno yang bikin suasana jadi on fire atau lebih suka genre pop yang bisa bikin kita sing along? Kalian tau nggak sih, kalo ternyata perbedaan selera musik setiap orang itu ternyata tumbuh sejak kita masih ada di kandungan? Iya, sejak dalam kandungan. Secara ilmiahnya, ketika kita berusia 24 minggu di dalam kandungan, kita udah bisa mulai kenal sama yang namanya musik. Soalnya, di usia segitu, sistem auditori atau stimulus pendengaran kita udah mulai berkembang. Di usia segitu pula, kita udah mulai bisa denger musik yang dinyanyiin atau didenger sama ibu kita lewat cairan ketuban. 

Nah, setelah lahir, kita terus ngalamin perkembangan selera musik, walaupun kebanyakan dari kita pasti nggak sadar akan hal itu. Tapi, gara-gara masih kecil dan belum bisa milih selera musik kita sendiri, jadi kita nerima segala genre yang ada di sekitar kita. Mulai dari lagu dangdut yang disetel sama tetangga sebelah sampe lagu punk yang dipasang sama anak komplek. Pokoknya segala musik, lintas genre. Nah, di umur 8 tahun, kita masih belum bisa selektif dan milih tentang jenis musik apa yang mau kita dengar. Tapi, bersamaan dengan otak kita yang mulai ngebangun sistem jaringan, nah kita juga mulai bisa menyerap irama dan intonasi dari setiap musik yang kita dengar. Di sini, bibit selera musik kita mulai muncul. Semakin gede, di umur sekitar 10 tahun, kita mulai bisa nentuin dan milih tentang lagu apa yang mau kita dengerin. Seiring berjalannya waktu, otak mulai bisa ngefilter sistem syaraf yang tidak berguna, termasuk jadi filter buat musik-musik kalian. 

Berkembang lagi, di usia 12 tahunan, selera musik justru ditentuin sama lingkungan sekitar. Soalnya, di umur segitu, musik udah jadi salah satu topik pembicaraan yang diperbincangkan sama orang-orang di sekitar kita. Makanya, nggak heran kalo di umur segitu, kita udah mulai interest buat dengerin acara musik dan update soal lagu-lagu terbaru. Makin gede, ternyata makin penasaran lah kita dengan segala jenis genre musik yang ada. Mulai dari rock, pop, keroncong, klasik, hip hop, jazz atau apapun itu. Di umur 14-an, akhirnya kita udah mulai tau, genre apa yang jadi favorit kita bahkan ngebenci genre lainnya. Tapi, di umur segitu kita masih terus pengen tau tentang segala update terbaru soal musik dari genre apapun. Sampe akhirnya makin dewasa, di umur 18-an, kita akhirnya udah nentuin salah satu genre favorit atau bahkan musisi pilihan kita sendiri. Nah, di umur segini sih kita biasanya udah mulai males ngikutin update sama segala jenis musik dan cenderung udah nyaman sama apa yang ada di list lagu handphone kita.

Jadi, pada akhirnya, selera musik seseorang itu beda-beda ya karena background yang berbeda-beda juga, gitu.

Akhir-akhir ini, lagi rame di media sosial soal perbedaan selera musik. Ada beberapa orang yang mikir kalo selera musik mereka lah yang paling mereka, dan sebaliknya, orang lain yang nggak suka selera musik mereka, dianggep cupu atau nggak keren. Musik itu kan soal selera, kan? Kalo gue lebih suka bubur gue nggak diaduk emang kenapa? Apa gue harus maksa lo buat makan bubur dengan cara yang sama? Kira-kira gitu sih gambarannya, sama kaya selera musik juga. 

Just because you like one certain genre, nggak bikin selera musik orang lain jadi lebih cupu atau nggak se-keren kalian lagi. Lagian, kalo di radio, sepanjang hari cuma nyetel lagu EDM terus, emang nggak bosen apa? Atau seharian cuma ada lagu Jazz yang mendayu-dayu? Kan, pasti pengen juga diselingi sama lagu Kahitna yang bisa bikin sing along waktu lagi macet? Atau kalo lagi pengen denger lagunya Via Vallen, juga nggak papa kan? Apa setiap orang harus nentuin satu genre favoritnya, kemudian nggak boleh suka yang lain juga? Lagian, dengan banyaknya variasi musik kan juga bikin lebih berwarna. Intinya, let everyone listen to whatever genre they would like to hear. Jadi, jangan lagi nganggep diri lo yang paling keren dan orang lain nggak, just because your different kind of music type, ya. 

9 Maret kemarin, adalah peringatan Hari Musik Nasional. Cheers to every musician in this world, especially in Indonesia, for their hard work to entertain us. Buat seluruh musisi Indonesia, terima kasih sudah berkarya dan bekerja keras untuk menghibur kami di sini. Let us appreciate local musicians by listening from the appropriate music platform, because at least, it’s one thing we can do to appreciate them. 

“When words fail, music speaks,” - Shakespeare. 

Comments