streatwear indonesia

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Datang ke POST

27 Jan 2016

 

Nggak hanya buku anti mainstream, aktivitas seru dan pertemanan juga bisa kita temukan di POST. Pemiliknya Teddy W. Kusuma,  Maesy Angelina dan Steven Ellis memang para "pelahap" buku. 

Sejak Juli 2014 ketiganya merintis toko buku kecil di tempat paling hype di Jakarta yaitu Pasar Santa. “Kami menyukai buku dengan karakter yang kuat. Sejak dulu kami memang ingin mengelola sebuah toko buku independen. Sebuah tempat yang selain menjual buku juga merayakan kegembiraan membaca karya-karya bagus,” kata Teddy dan Maesy yang mengaku cukup terinspirasi dengan toko buku Kineruku (Bandung), Toko Budi (Yogyakarta), C2O (Surabaya) dan Kata Kerja (Makassar).

Well, D! mengobrol banyak dengan Teddy dan Maesy mengenai passion mereka. Keberadaan POST merupakan salah satu bentuk kreativitas anak muda Indonesia untuk membangkitkan selera membaca dan pemenuhan rasa haus akan selera buku yang bermutu, nih! Dari obrolan dengan mereka, D! bisa menyimpulkan 5 alasan kenapa Pop Patriotics mesti datang ke POST. Check these out, ya Guys!

 


1. Bukan Buku Mainstream

POST punya koleksi buku-buku dari penerbit independen dengan kualitas baik dan sulit diperoleh di toko-toko buku besar. Seperti, Penerbit Marjin Kiri; penerbit yang setia menghadirkan wacana-wacana alternatif dan ulasan mendalam, Penerbit Banana dan Oak yang menerjemahkankan karya-karya penting dari JD Salinger, FX Toole sampai George Orwell dan juga Penerbit Kata Bergerak.

  

2. Pastinya Otentik Karena Hasil Kurasi Pemiliknya
Pemilik POST; Teddy, Maesy dan Steven adalah orang-orang “pelahap” buku. So, buku-buku yang terpampang di POST adalah hasil kurasi dan merefleksikan selera mereka. Selain itu banyak pula buku-buku luar yang mereka dapatkan dari perjalanan, memesan dari luar negeri, atau titip teman. Jadi, koleksi mereka benar-benar anti mainstream, nih Pop Patriotics!


3. Banyak Aktivitas Kreatif
Awal berdirinya sejak 2014, memang POST ingin menjadi sebuah ruang publik yang bisa menjadi alternatif untuk para pencinta buku, penulis dan mereka yang ingin menjadi penulis, untuk saling berkegiatan dan berinteraksi. Misalnya, beberapa waktu lalu POST membahas kumpulan cerpen AS Laksana, Si Janggut Mengencing Herucakra dan kolaborasi bersama Suart Art Space; sesi menulis estafet di mana beberapa penulis dan peserta berkolaborasi menghasilkan karya tulisan pendek di tempat.


4. Suasananya Anak Muda Banget, Pop Patriotics!
Ternyata saat memutuskan untuk memulai POST, Pasar Santa belum ramai. Saat itu, di lantai atas baru ada sekolah kopi ABCD Coffee dan penjual piringan hitam Substore. Semangat kolaboratif yang ditunjukkan teman-teman di sana membuat Teddy dan Maesy semangat untuk membuka POST. Pasar Santa adalah tempat yang dapat menjadi ruang publik alternatif di mana pedagang lama, baru, penjual buku, piringan hitam, makanan, bumbu, toko kelontong, dan macam-macam bisa berkegiatan secara perdampingan. Seru, kan?


5. Intimate Book Store
Bisa dibilang kita bakal mendapat keintiman yang nggak kita temui di toko-toko buku besar lainnya. Karena POST kecil aja, interaksi dengan para pengunjung mungkin jadi lebih personal. Kita bisa saling berdiskusi dan bertukar informasi tentang buku bagus, penulis berbakat, dan lain-lain. (images: dok.pribadi)
SHARE & COMMENT