streatwear indonesia

Apa yang Terjadi Ketika Soleh Solihun Jadi Wartawan?

09 Feb 2016

 

“Jadi wartawan itu ada nggak enaknya. Euphoria dengan orang yang kita idolakan jadi berkurang. Posisi sebagai wartawan membuat para idola itu kehilangan “misterinya”, kata Soleh Solihun. Sudah beberapa tahun terakhir ini Soleh meninggalkan dunia kewartawanannya dan beralih menjadi stand up comedianhost dan main film lagi! 

Kalau dulu mewawancara sekarang diwawancara. Kalau dulu menunggu sekarang ditunggu. Lha, buktinya D! menunggu penulis buku Majelis Tidak Alim Ini hampir dua jam hehehe. Ke D! Soleh cerita pengalaman-pengalamannya yang paling berkesan selama berprofesi sebagai wartawan. Masa-masa yang menurutnya membentuk dirinya menjadi sosok seperti sekarang ini. Masa-masa yang terkadang masih dirindukannya, ”Iya, kadang saya suka rindu mewawancara orang,” kenangnya. Apa yang terjadi ketika Soleh Solihun jadi wartawan? Ini dia 9 peristiwa penting sepanjang karier Soleh Solihun 2004 – 2012 menjadi wartawan di dua majalah musik dan satu majalah pria dewasa. Aww


1.  Antara Gaji Kecil dan Kota Besar

“Pertama kali jadi wartawan itu di majalah MTV Trax, dari Bandung saya pindah ke Jakarta. Masa-masa adaptasi tinggal di Jakarta dengan gaji wartawan yang pas-pasan.”


2. Masa-masa yang Membentuk Hidup Saya

“Buat saya setiap media tempat saya bekerja dulu adalah fase yang membentuk diri saya. Sewaktu di MTV Trax, masih senang-senangnya anak muda dan ikut merasakan bergeliatnya  band indie di Indonesia. Di Playboy saya lebih dewasa dan memang majalahnya juga ada aja yang kritik jadi tantangannya banyak banget. Di Rolling Stone-lah saya ketemu dengan dunia stand up.”


3. Review yang Subjektif

“Kesulitan yang saya alami semasa jadi wartawan paling ketika menuliskan review musik. Bagaimana memasukkan pandangan subjektif saya tetapi masih bisa diterima sama orang lain. Saya pernah beberapa kali mendapat komentar nggak langsung dari musisi yang saya review albumnya. Saya nggak membicarakan orangnya kok tapi karyanya. Saya nggak punya masalah apa-apa dengan orangnya. Tapi sebagian sering menganggap saya punya masalah atau nggak suka dengan orang yang karyanya saya review.”


4. Ngopi dengan Iwan Fals

“Bekerja di Rolling Stone membuat saya dekat dengan musisi yang saya senangi, contohnya Iwan Fals. Yang biasanya cuma bisa nonton dari jauh di keramaian, sekarang bisa duduk nggak berjarak, lihat dia latihan disuguhin kopi lagi! Tapi kondisi kayak gini ada nggak enaknya juga, greget ke musisi yang saya senangi jadi berkurang.”


5. Pertanyaan Nggak Bermutu

“Ketika wawancara Ahmad Dhani waktu di Rolling Stone saya menanyakan mengenai Mulan. Ini pertanyaan “titipan” dari followers di Twitter. Dhani kelihatan nggak senang waktu saya tanya begitu dan lucunya pas saya tanya mengenai Mulan eh tiba-tiba Mulannya lewat dari pintu depan dan masuk ke dalam rumah. Nah, pas saya di kantor Pemred saya  nanya sambil cengegesan, kamu tanya apa ke Dhani kok dibilangnya pertanyaan kamu nggak bermutu. Yah, mungkin antara pertanyaan soal Mulan atau pas ngobrol dengan Dhani saya sempat tanya kenapa ya makin ke sini kok lagu-lagunya kurang bagus.”

6. Ribetnya Remy Sylado

“Waktu di Rolling Stone saya pernah dapat tugas untuk meminta Remy Sylado menulis artikel mengenai Adi Bing Slamet. Waktu itu memang banyak yang bilang Remy nggak punya komputer dan dia ngetik pakai mesin tik. Eh, rupanya beneran, dia ngetik pakai mesin tik dan kirim tulisannya ke kita lewat pos. Ribetnya pas mau ngedit, dia nggak mau diedit padahal kita butuhnya berapa kata gitu dan dia nulisnya kepanjangan. Jadinya, saya ngetik di depan Remy dan ngeditnya satu-satu gitu, itupun harus dengan perdebatan yang cukup pelik. Karena dia nggak suka tulisannya diedit. Itu jadi salah satu pengalaman berkesan sih buat saya.”


7. Pramoedya Ananta Toer

“Selain karena polemik status majalah Playboy yang memang udah dari sono-nya selalu diributin, hal “menarik” lainnya dari bekerja di majalah ini adalah saya sempat mewawancarai Pramoedya Ananta. Dan beliau kelihatannya asyik-asyik saja diwawancara tim Playboy.”


8. Prestasi Terbaik Jurnalistik Penghargaan Adiwarta Sampoerna

“Anugerah Adiwarta Sampoerna yang saya peroleh di tahun 2007 ketika bekerja di majalah Playboy adalah prestasi terbesar yang saya raih semasa menjadi wartawan. Bukan soal penghargaannya aja tapi media yang saya bawa dan waktu itu saya ingat salah satu dewan jurinya Effendy Ghazali yang pernah menyatakan kalau Playboy bukan produk jurnalis. Tapi rupanya karya saya menang juga.”


9. Masih Suka Kebawa Sifat Wartawannya

“Karena dulu jadi wartawan, sering suka kebawa kalau sekarang-sekarang ini diwawancara wartawan. Saya suka komentar dalam hati, kok nanyaknya gini ya, nggak riset dulu nih. Tapi nggak mungkin juga saya bilang sama orang yang bersangkutan, kasihan ntar hehehe. Oh, ya sama satu lagi, setelah menjadi orang yang sering diwawancara saya baru merasakan ternyata salah kutip itu nggak enak banget. Saya merasa nggak ngomong A tapi ditulisnya A.  Ya sudahlah, hehehe…”


SHARE & COMMENT