streatwear indonesia

Fotografer Indonesia Ini Dua Kali Mendapat Nominasi Fotografer Terbaik Dunia!

12 Feb 2016

 

“Foto yang bagus? Nggak bisa dijelaskan dari skala 1 -1 0 yang pasti foto yang bagus itu jelas dan menerangkan isi di dalamnya. Kadang foto yang blur juga bisa masuk kategori bagus kalau lewat kondisi tersebut bisa menerangkan apa yang terjadi,” kata Ulet Ifansasti.

Beberapa minggu ini sosmed kita diramaikan dengan judul-judul bombastis seperti anak muda Indonesia yang menjadi nominasi fotografer terbaik dunia atau anak Papua yang menjadi nominasi fotografer dunia. Nah, ini dia nih, sosok Ulet Ifansasti, fotografer Indonesia yang dua kali mendapat nominasi sebagai fotografer terbaik dunia. Seperti apa sih orangnya?


1. Pria Jawa Kelahiran Papua, Besar di Jakarta Tinggal di Jogja

“Saya orang Jawa yang lahir di Papua, besar di Jakarta dan sekarang tinggal di Jogja. Orangtua saya sudah hampir 40 tahun tinggal di Papua. Dari 1995 – 2006 saya tinggal di Jakarta dan sejak 2006 pindah ke Jogja.”


2. Nggak Tamat Kuliah

“Saya sempat kuliah Desain Grafis di Universitas Trisaksti, tapi nggak sampai tamat. Saya kegandrungan travelling; Jawa-Bali-Lombok, pokoknya tempat-tempat yang bisa sesuai dengan kantonglah dan dari hobi itu juga belajar fotografi secara otodidak.”


3.  Kepo Isu Sosial

“Saya nggak pernah terikat dengan agensi foto atau media apapun. Sejak dulu memang sukanya freelance dan memotret isu-isu yang saya anggap menarik. Seperti tahun 2002 saya ke Bali pasca bom Bali.”

image: Perayaan Satu Suro di Keraton Solo 


4. Awal Jadi Kontributor Tetap Getty Images

“Nah, di tahun 2008 saya ke Lamongan mau lihat eksekusi bom tiga terpidana bom Bali yang rencananya dimakamkan di Lamongan. Kebetulan, saya dihubungi via email oleh editor Getty Images yang menawarkan saya untuk mengkover peristiwa tersebut. Sebelum-sebelumnya saya memang beberapa kali mengirim foto ke agency kecil anak perusahaan dari Getty Images yang lebih ke citizen journalism-nya. Di situ, beberapa foto saya sempat dipakai.”


5. Dua Kali Nominasi Fotografer Terbaik Dunia

“Saya sudah dua kali dinominasikan sebagai fotografer terbaik dunia (satu dari 10 fotografer), di tahun 2014 dan 2015 dari The Guardian, media Inggris. Sebenarnya ini bukan kompetisi tapi bentuk apresiasi media tersebut ke pewarta foto. Sebelum info mengenai nama-nama yang dinominasikan tersebut keluar, saya sempat dikontak melalui email dan ditanyai pendapat saya mengenai beberapa isu dunia.”


6. Menjadi “Saksi Mata” Lebih Menarik Ketimbang Pemenang

“Saya nggak pernah targetin jadi pemenang. Jadi nominasi aja saya sudah bersyukur dan merasa bangga disejajarkan dengan 10 fotografer dunia lainnya. Saya punya ketertarikan dengan isu-su sosial dan ingin mendokumentasikannya. Ketimbang sekadar penghargaan, prestasi yang saya peroleh adalah kesempatan untuk menjadi saksi mata akan sebuah peristiwa dan tantangan bagaimana publik bisa tahu apa-apa yang sedang terjadi di dunia sekarang ini.”

image: Penampakan erupsi Sinabung

7. Motret Tanpa Ribet

Saya nggak mau motret ribet-ribet. Harus gini atau gitu. Feeling, angle setiap orang kan berbeda-beda. Semua orang punya cara pandang dan isi kepala yang berbeda-beda. Ini yang membuat perspektif setiap orang ketika memotret berbeda. Tapi kesabaran sangat diperlukan. Sabar menunggu moment puncak. Juga hal-hal lain yang mendeksripsikan subjek yang kita foto. Misalnya memotret pekerja, ada beberapa hal lain yang bisa menjelaskan sosok pekerja selain aktivitasnya seperti pundaknya, ototnya, bagaimana sih tangan pekerja dan lain-lainnya. (images: dok.pribadi, teaser by Fully Syafi)


SHARE & COMMENT