streatwear indonesia

Memajukan Kuliner Tradisional Solo dengan Cara Modern

19 Feb 2016

 

Dari membuka usaha rujak dengan modal Rp 100.000 sampai sekarang sudah memiliki 13 outlet ( lima restoran dan delapan outlet lunch box) di Jakarta. Ny. Swan adalah sosok dibalik kesuksesan Dapur Solo melebarkan sayapnya. Yuk, simak cerita menginspirasi dari Ny. Swan, Pop Patriotics!


Damn! I Love Indonesia (D!): Apa yang membuat Ny. Swan ingin mendirikan restoran tradisional Solo?

Ny. Swan (NS): Sebagai ibu rumah tangga, saya tetap mau berdikari dan mengeksplor kemampuan saya. Kebetulan saya senangnya masak dan punya resep-resep tradisi yang diturunkan turun-temurun dari keluarga.


D!: Apa keistimewaan kuliner tradisional ketimbang modern?

NS: Kuliner tradisional itu punya cerita dan filosofinya. Ada cerita dibalik setiap menu yang ada. Misalnya Nasi Liwet, kalau di Solo aslinya dijual menggunakan sepeda dengan dua panci digandeng di belakang dan setiap penjualnya sudah punya daerahnya masing-masing. Jadi yang lain nggak bisa berjualan di daerah tersebut. Kalau nasi tumpeng sendiri penyebutannya lebih tepat “mengeruk” ketimbang memotong. Karena nasi tumpeng melambangkan gunung/alam dan kita nggak pernah memotong “alam” melainkan mengeruknya sesuai dengan kebutuhan. Bukan membabatnya habis.


D!: Tapi, kenapa ya anak muda sepertinya kurang bangga kalau makan di restoran tradisional?

NS: Mungkin karena pengaruh media juga dan anak muda itu kan sukanya ngikutin trend. Dan memang kalau di upload di sosial media, penampakan kuliner luar memang lebih menarik ketimbang tradisional. Kalau makanan tradisional kan terlihat biasa saja tapi rasanya luar biasa hehehe…


D!: Bagaimana Dapur Solo bisa bersaing dengan kuliner modern dan bertahan di bisnis dunia makanan selama hampir 30 tahun?

NS: Konsisten rasa, service dan tetap mempertahankan nuansa tradisional yang ada. Bagaimanapun perkembangan kuliner luar, orang Indonesia tetap bakal mencari nasi, sebagai makanan utamanya. Itu sudah menjadi genetik, akar dan kebiasaan kita sebagai orang Indonesia. Kalau nggak makan nasi, nggak nendang. Tinggal bagaimana mempertahankan kualitas dan terus berinovasi saja. 


D!: Inovasi seperti apa?

NS: Walaupun judulnya tradisional, kita tetap mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, sekarang ini kan sedang gencar-gencarnya promosi menggunakan sosial media. Nah, sudah enam bulan ini Dapur Solo aktif di sosial media seperti Facebook, Twitter dan Instagram.  


D!: Apa Ny. Swan punya pesan-pesan buat anak-anak muda Indonesia?

NS: Ayo ramai-ramai mencintai produk lokal dan menggunakan bahan pangan lokal. Kalau bukan kita sendiri yang cinta dan mengembangkan produk lokal, siapa lagi?

SHARE & COMMENT