streatwear indonesia

Kisah Le Mayeur, Sang Pemilik Museum Cinta

21 Oct 2016

 

Buat Pop Patriotics yang mungkin belum tau, Pulau Bali selain punya julukan Pulau Dewata, juga punya banyak julukan yang terkenal, seperti Pulau Surga, Pulau Seribu Pura, The Island of God, dan Pulau Cinta.

image: https://lh3.googleusercontent.com

Yup, Bali emang udah ngasih banyak banget memori cinta indah buat para sejoli dalam memadu kasih, etsaaahhh... Nah salah satunya yang kisah cintanya berlabuh di Pulau Bali adalah pelukis asal Bruxelles, Belgia, Adrien Jean Le Mayeur de Merpres yang datang ke Bali di tahun 1932 dan kemudian menyewa sebuah rumah di Banjar Kelandis. Di Bali ia bertemu Ni Nyoman Pollok, seorang penari legong Keraton yang masih berusia 15 tahun dan menjadikannya sebagai model lukisan. Lukisan-lukisan tersebut kemudian ikut pameran di Singapura dan mendapat sambutan yang baik sehingga namanya makin terkenal. Setelah dari Singapura, Le Mayeur balik ke Bali dan beli tanah di pesisir Sanur kemudian membangun rumah. Di rumah ini, setiap hari Le Mayeur ngelukis Ni Nyoman Pollok bareng dua temannya.

image: http://blog.icbali.com/

Kecantikan dan keindahan tubuh Ni Nyoman Pollok bikin Le Mayeur terpikat, jadi makin betah ia tinggal di Bali. Dari yang awalnya cuma mau tinggal bentar, Le Mayeur malah mau menetap selamanya di Bali. Tiga tahun Ni Nyoman Pollok jadi modelnya. Di tahun 1935, Le Mayeur menikahi Ni Nyoman Pollok pakai upacara adat Bali. Aaaaww...

image: upload.wikimedia.org

Meski udah menikah, Le Mayeur tetap jadiin Ni Nyoman Pollok sebagai model lukisannya dan hasil lukisan itu dijual. Tapi nggak semua. Beberapa karya lukisan yang dianggap paling bagus, disimpan dan dipajang sendiri buat koleksi pribadi. Rumah mereka nggak cuma dipenuhi cinta, tapi juga dipenuhi karya seni. Sementara lukisan yang dijual uangnya dipakai buat memperindah rumah mereka.

image: http://assets-a2.kompasiana.com/

Di tahun 1956, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Bahder Djohan mengunjungi rumah Le Mayeur dan terpikat! Ia minta Le Mayeur biar rumahnya dijadiin museum. Ide itu disambut dengan baik. Malah, Le Mayeur jadi lebih semangat buat terus berkarya biar menghasilkan karya seni yang lebih bermutu lagi.

image: http://imgprivate2.artprice.com/

Sayangnya setahun setelah nyerahin rumahnya sebagai museum, Le Mayeur menderita kanker telinga ganas. Akhirnya bersama sang istri, Ni Nyoman Pollok, Le Mayeur balik ke Belgia buat berobat. Setelah dua bulan tinggal di Belgia, tepatnya bulan Mei 1958, Le Mayeur meninggal dunia di usia 78 tahun dan dimakamkan disana. Ni Nyoman Pollok kemudian kembali ke Bali buat ngurusin rumah yang jadi museum itu sampai ia menyusul kepergian Le Mayeur pada 28 Juli 1985 dalam usia 68 tahun. Bukti terawatnya cinta mereka masih kuat di Museum Le Mayeur.

image: 1bp.blogspot.com

Museum ini bergaya etnik, banyak ukiran tradisional dan didominasi warna merah. Ada lukisan Ni Nyoman Pollok, pura Bali, keindahan pantai dan keindahan alam lain. Dari sekian banyak lukisan yang dipajang, bisa terlihat betapa Ni Nyoman Pollok jadi pusat dunia Le Mayeur. Selain lukisan, di museum ini juga memuat sejumlah koleksi miliknya, kayak buku-buku tua, furnitur khas Bali, dan beberapa seni ukir. Koleksi tersebut bikin museum ini sangat kental dengan suasana khas Bali.

image: balisightseeings.com

Museum yang berada di Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja, Denpasar Selatan ini sekarang dikelola pemerintah kebudayaan Bali. Namun sayang, museum ini nggak terjaga dengan baik. Penataannya kurang rapi dan kaca yang membingkai lukisan pun keliatan kusam sampai gambar asli lukisan cuma terlihat samar-samar. Juga debu-debu yang berterbangan dan ruangan yang terasa sumpek. Juga nggak disediain jasa tour guide di museum itu. Jadi pengalaman menikmati lukisan cuma bisa dirasain langsung oleh pengunjung kalau teliti selama ngiterin museum. Ada bacaan singkat di ruangan pertama museum, dimana isinya sejarah mengenai museum itu yang jadi kunci satu-satunya kunci buat memahami makna berdirinya museum bersejarah itu.

Museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 8 pagi sama 15.30 WITA, kecuali hari Jumat, bukanya mulai 8.30 sampai 12.00 WITA. Tiket masuk buat wisatawan lokal harganya mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu dan wisatawan mancanegara mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Khusus pelajar, Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu.

Di antara penjaja makanan, aksesori, dan pakaian di pesisir Sanur, ada satu rumah bergaya artistik, yang merupakan peninggalan sepotong kisah cinta turis sama penduduk asli Denpasar. Sekarang namanya jadi Museum Le Mayeur. Gimana, Guys? Tertarik ‘kan buat ngunjungin museum cinta ini...


Sumber: cnnindonesia
SHARE & COMMENT
Anonymous - Tue, 11 Jun 2019 Gimana ya caranya supaya museum tersebut terawat kembali....