streatwear indonesia

Buku dan Lagu yang Menginspirasi Eka Kurniawan

12 Jan 2016

 

Siapa sih yang nggak senang kalau disamakan dengan idolanya? Nggak hanya disamakan tetapi disebut sebagai penerus lagi! But, surprisingly Eka Kurniawan nggak begitu sreg bila disamakan dengan Pramoedya Ananta Toer, penulis idolanya. Well, sebutan ini diberikan oleh media asing (The Sydney Morning Herald) dan (alm) Benedict Anderson—pemikir dan peneliti Indonesia. Mereka bilang Eka Kurniawan adalah the successor to Indonesia’s greatest writer, Pramoedya Ananta Toer. “Saya juga nggak tahu kenapa orang memberi julukan tersebut. Orang bisa menjuluki saya apa aja, suka-suka mereka. Saya memang pengagum Pram tapi karya saya dan Pram jauh berbeda,”kata Eka Kurniawan.

image: aguskhaidir.files.wordpress.com

Nggak hanya masuk ke dalam 100 Buku Pilihan versi The New York Times, novelnya Cantik Itu Luka atau Beauty is a Wound disandingkan dengan One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez—pemenang Nobel Sastra tahun 1982. Kalau ada yang nggak tahu siapa Gabriel, doi yang menulis novel Love in The Time of Cholera.

Itu lho film romantis yang diperankan oleh Javier Bardem, Giovanna Mezzogiorno dan Benjamin Bratt. Film romantis yang mengharu-birukan hati yang membuat kaum Hawa percaya pasti ada deh sebiji Adam yang setia seperti Florentino di dunia yang penuh kepasuan ini #tsaaaahWell, Pop Patriotics, buat kamu belum ngeh juga siapa Pramoedya Ananta Toer, silahkan googling sendiri ya hehehe. Tapi, kalau kamu mau tau lebih banyak tentang Eka Kurniawan, yuk simak percakapan D! Dengan Mas Eka berikut ini!

Damn! I Love Indonesia (D!): Masuk ke dalam 100 Buku Pilihan di Amerika Serikat pilihan The New York Times, bagaimana perasaannya Mas?

Eka Kurniawan (EK): Tentu saja senang, meskipun juga tak perlu ditanggapi secara berlebihan. Di dalam daftar semacam itu, selalu ada pilihan-pilihan subyektif pemilihnya (dalam hal ini para editor NYT), dan tentu saja mungkin akan ada karya-karya bagus yang terlewatkan (misalkan buku-buku yang sebenarnya bagus tapi mungkin diterbitkan oleh penerbit kecil, atau tak memperoleh liputan yang memadai).


D!: Kapan buku terbaru Mas Eka bakal dirilis dan tentang apa Mas? 

K: Februari 2016. Judulnya O. Biasanya saya nggak terlalu suka memberi tahu tentang apa buku saya berikutnya. Itu jawaban yang selalu sulit, karena kecenderungan novel-novel saya memiliki kompleksitas tertentu, sehingga hampir mustahil disederhanakan dalam satu-dua kalimat. Tapi karena novel itu akan segera terbit, saya bisa bilang di sampul belakang buku itu akan tercantum tulisan “Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut”. Tentu saja isinya jauh lebih luas dari itu.

image: ekakurniawan.com


D!: Boleh disebutin nggak Mas 5 buku yang mengubah hidup Mas, serta alasannya?

EK: Lapar, karya Knut Hamsun. Buku ini yang membuat saya ingin menjadi penulis. Bumi Manusia, buku yang membuat saya bisa melihat Indonesia dengan cara yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Saya tak bisa menulis satu judul tunggal, tapi nomor tiga dan empat: buku-buku karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, yang membentuk imajinasi saya sejak masa remaja dan terus berpengaruh sampai sekarang. Don Quixote, novel yang banyak mengajari saya bagaimana menulis dengan cara yang saya sukai, dan saya pergunakan sampai sekarang.

image: getscoop.com


D!: Lagu-lagu apa saja yang Mas dengar saat menuliskan Cantik Itu Luka

EK: Saya nggak ingat, itu sudah lima belas tahun lalu. Selera musik saya nggak jauh dari selera generasi 90-an: Guns N’ Roses, Nirvana dan Pearl Jam. Saya juga mendengarkan musik dari The Rolling Stones, Queen, Led Zeppelin, Genesis, Toto. Di masa sekarang saya nyaris mendengarkan apa saja. Walaupun punya selera terhadap jenis musik tertentu, biasanya saya juga mendengarkan genre lain juga.


image: wrat.com


D!: Prestasi terbesar yang Mas dapatkan selama menjadi penulis?

EK: Melihat judul novel saya ditulis di bak truk (Cantik Itu Luka—red). Sudah beberapa kali.


D!: Apa mimpi Mas sebagai penulis yang belum tercapai?

EK: Menerjemahkan Moby Dick.


image: dok.pribadi
SHARE & COMMENT