streatwear indonesia

5 Pahlawan Nasional Indonesia Ini Juga (Dulunya) Wartawan Lho!

09 Feb 2017

 

Setiap tanggal 9 Februari kita memperingati Hari Pers Nasional lho, Pop Patriotics. Hayo... Pada tau nggak? Nah, Hari Pers Nasional ini didasari Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985, dimana keputusan Presiden Soeharto tersebut menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia punya sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan pengamalan Pancasila.

Tentu Hari Pers Nasional ini nggak bisa dilepaskan dari fakta sejarah peran penting ‘juru tinta’ ini sebagai aktivis pers dan politik. Sebagai aktivis pers, wartawan punya tugas untuk memberitakan dan menerangkan supaya membangkitkan kesadaran nasional, sedangkan sebagai aktivis politik ya untuk ‘menyulut’ perlawanan rakyat terhadap kemerdekaan.

Berikut Damn! mau #kilasbalik nih ke pahlawan-pahlawan nasional yang ternyata dulunya juga seorang wartawan dan punya peran penting dalam ikut memerdekakan Indonesia. Ada siapa aja?

1. Ki Hadjar Dewantara

Aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, pelopor pendidikan buat kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda, pendiri Perguruan Taman Siswa serta Bapak Pendidikan Indonesia ini dulunya wartawan lho, Guys! Beliau memulai karirnya sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Pada masanya, beliau tergolong penulis andal, tulisannya komunikatif, tajam, dan sangat antikolonial.

Image: https://pbs.twimg.com

Beliau sempat diasingkan Belanda karena salah satu tulisannya, “Als ik een Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda,” yang dimuat dalam surat kabar De Expres, 13 Juli 1913. Isi artikel ini dinilai pedas di kalangan pejabat Hindia Belanda. Meski di pengasingan, Ki Hadjar Dewantara nggak lantas berhenti. Beliau merintis cita-cita memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan sampai mendapat Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan bergengsi dan mulai mendirikan Taman Siswa.

2. Mohammad Hatta

Negarawan yang juga punya peran penting dalam memerdekakan Indonesia ini ternyata mulai menulis buat koran-koran Jakarta dan majalah-majalah di Medan. Artikel-artikelnya nggak terlalu politis, tapi lebih menganalisis dan mendidik pembaca. Hatta menulis sejak dirinya dan Syahrir ditangkap Belanda pada 25 Februari 1934 dan dibuang ke Digul dan Banda Neira.

Image: http://malahayati.ac.id/

3. Tan Malaka

Salah seorang pembela kemerdekaan Indonesia dan juga salah satu pahlawan nasional ini awalnya mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Selain mengajar, Tan Malaka juga nulis beberapa propaganda buat para kuli yang dikenal juga Deli Spoor. Selama masa tersebut, beliau mengamati dan memahami penderitaan dan keterbelakangan hidup pribumi di Sumatera. Nggak jarang beliau juga menulis buat media massa. Salah satu karyanya adalah “Tanah Orang Miskin” yang menceritakan tentang perbedaan mencolok kekayaan kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord. Beliau juga menulis tentang penderitaan pada kuli di perkebunan teh di Sumatera Post.

Image: https://earthofpeople.files.wordpress.com

4. Hamka

Mungkin Pop Patriotics inget dengan karya beliau, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Ya, penulisnya adalah Abdul Malik Karim Amrullah atau terkenal dengan nama penanya Hamka. Beliau selain seorang ulama dan sastrawan Indonesia, juga adalah seorang wartawan, penulis, dan pengajar. Beliau menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat di tahun 1936. Namun sayang, di tahun 1943 majalah yang dipimpinnya itu dibredel Jepang yang kala itu berkuasa di Indonesia.

Image: http://photo.jpgm.co.id/

Hamka juga ikut berjuang mengusir penjajah. Beliau pernah ikut menentang kembalinya Belanda ke Indonesia dengan bergerilya di dalam hutan di Medan.

5. Tirto Adhi Soerjo

Ngomongin soal pers di Indonesia, khususnya pahlawan nasional yang dulunya adalah wartawan, nggak lengkap kalau nggak memasukkan Tirto Adhi Soerjo di dalam daftar ini. Yup, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo atau T.A.S. adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia yang dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Beliau menerbitkan surat kabar Soenda BeritaMedan Prijaji, dan Putri Hindia. Dimana Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena memakai bahasa Indonesia dan semua pekerjanya, mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah orang Indonesia asli.

Image: http://s13.postimg.org/

Tirto adalah orang pertama yang memakai surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Beliau berani menulis kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pas zaman itu. Di tahun 1973, pemerintah memberi gelar Tirto sebagai Bapak Pers Nasional dan di tanggal 3 November 2006 sebagai Pahlawan Nasional.

Tuh Guys... Para pahlawan ini “memakai” media massa untuk menyebarkan semangat nasionalisme, mengusir penjajah, mendidik penjajah. Alangkah baiknya kalau media massa di zaman sekarang ini mengadopsi kegunaan media massa zaman dulu ya. Jangan menyebarkan berita hoax, ehem ehem...

SHARE & COMMENT