streatwear indonesia

Rahung Nasution: "Masakan Batak Paling Eksotis!"

14 Jan 2016

 

"Coba sebutkan nama-nama masakan daerah, apa ada anak-anak muda mengenalnya? Seberapa penting masakan Indonesia dalam mata pelajaran, dimasukkan dalam kurikulum dan dipraktekkan? Jika tidak ada alias NOL, anak-anak muda Indonesia tidak akan tahu apa-apa tentang masakan Indonesia."

Paling menolak kalau disebut sebagai chef, tapi coba Pop Patriotic cek akun instagramnya @kokigadungan. Hampir semua penuh dengan foto-foto kuliner Indonesia yang diracik Rahung menjadi sajian istimewa dengan sentuhan estetika. Ngobrol dengan Bang Rahung, D! nggak hanya membicarakan soal makanan yang enak-enak dan kesenangannya memasak tapi juga bagaimana melestarikan kuliner nusantara dan ketertarikan anak muda Indonesia akan kulinernya sendiri. Kalau kamu tertarik nggak?


image: (dok.pribadi)

Damn! I Love Indonesia (D!): Kapan pertama kali jatuh cinta dengan dunia kuliner dan bagaimana ceritanya sampai menjadikannya sebagai profesi?

Rahung Nasution (RN): Memasak, apalagi bagi anak pertama, adalah hal yang biasa di dalam tradisi kami sebagai orang Batak Mandailing. Baik bagi perempuan, begitu juga untuk laki-laki. Dan kebenaran, saya anak pertama dalam keluarga kami. Jadi kebiasaan memasak itu terus berlanjut. Begitu saya memasuki SMP di kota kabupaten, kami tinggal di kos-kosan bersama "abang-abang” yang lain dan kami juga bergantian memasak. Masing-masing setiap minggu pulang ke kampung dan kembali ke kabupaten membawa bekal bahan-bahan mentah untuk dimasak. Biasanya peresediaan untuk satu atau dua minggu. Kebiasaan ini terus terbawa-bawa, begitupun ketika saya migrasi ke Jogja untuk melanjutkan SMA dan menetap di kota itu untuk waktu yang cukup lama. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Profesi saya sebenarnya bukan "tukang masak" dan tak pantas untuk disebut sebagai "chef". Saya memasak hanya karena kebutuhan sehari-hari. Karena saya suka keliling-keliling (travelling), ya secara otomatis saya juga tertarik untuk merasakan dan mengetahui tradisi kuliner lainnya di tempat-tempat yang saya datangi. Saya coba pelajari dan memasaknya untuk teman-teman dekat saya. Jika ditanya profesi, ya saya sebenarnya freelance videomaker. Merekam video, mengeditnya dan menjadikannya sebagai "tontonan sosial" yang semoga saja bermakna bagi yang menontonnya. Itulah pekerjaan saya.


D!: Lantas, kenapa akhirnya memutuskan untuk menekuni kuliner tradisional Indonesia?

RN: Saya tidak terlalu menekuni kuliner Indonesia. Saya masih jauh dari hal-hal yang dianggap menekuni tersebut. Saya bergabung dengan komunitas ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia), yang diprakarsai Oom William Wongso dan Santhi Serad, sebagai wadah untuk menekuni, mendokumentasikan dan menyebarluaskan keragamaan kekayaan kuliner tradisional Nusantara. Jadi yang menekuni itu ACMI sebagai komunitas. Di sana saya belajar banyak bersama teman-teman yang punya ketertarikan yang sama. Menariknya, kebanyakan dari kami yang ada di komunitas tersebut datang dari beragam profesi dan kebanyakan tidak ada basic sekolah kuliner. 


D!: Bagaimana aktivitas di seputar dunia kuliner?

RN: Akhir tahun yang lalu, saya dengan teman-teman seniman seni rupa di Bandung, menggagas Spicelab. Spicelab bagian dari Salian Art, di sana kami mencoba membuat event dan program untuk mengenalkan masakan Nusantara yang dikolaborasikan dengan seni. Kami membuat beberapa kegiatan dan beberapa resep masakan yang saya temukan di kampung-kampung dengan belajar dari ibu-ibu, kami inovasi ulang dan kami sajikan. Tapi ini bukan kegiatan sehari-hari.

Sekali lagi, keseharian saya pergi jalan-jalan keliling-keliling memproduksi video berisi tentang keragaman budaya dan keunikan Indonesia lainnya. Video-video dan tulisan yang kami produksi dipublikasikan di superadventure.co.id. Mengenai salah satu program televisi kabel di mana saya menjadi host-nya, saat itu saya ditawari. Itupun berawal dari kesukaan saya travelling. Dan saya mencobanya. Video-video yang ditayangkan selama 1 jam tayang tersebut, kami produksi hanya dengan berdua. Saya sebagai host merangkap kameramen dan seorang teman, Adrian Mulya, fotografer yang juga merangkap sebagai kameramen. Begitulah awalnya program itu kami mulai.


D!: Btw, ada berapa jenis menu kuliner tradisional Indonesia yang sukses dikuasai? Dan apa yang paling eksotis?

RN: Jenis kuliner tradisional yang benar-benar bisa saya kuasai hanya resep-resep dari dapur ibu saya. Dan itu pun saya yakin, masakan Ibu saya jauh lebih enak dari yang saya masak. Ketika berkesempatan keliling kebebarapa pelosok Nusantara, saya berkesempatan belajar beberapa jenis masakan dari penduduk setempat. Jadi selain masakan Ibu, saya bisa memasak beberapa jenis masakan Minang (tidak semua, hanya beberapa jenis), begitu jugadengan Atjeh, Minahasa, Malaku, Jawa, Dayak dan masakan Melayu.

Dari sekian ratus jenisnya, saya hanya bisa memasak beberapa dari masakan-masakan mereka tersebut. Jika ditanya yang paling eksotis yang mana, sekali lagi saya akan bilang masakan Batak dari penggunaan rempah andaliman, tetap yang paling eksotis. Dari keragaman bumbu ada Atjeh. Jika dari keragaman bahan-bahan makanan, Dayak sangat eksotis.

image: (dok.pribadi)

D!: Pernah kepikiran buat restoran? 

RN: Untuk membuat restoran dan mengelolanya sampai saat ini belum. Restoran dan dapurnya itu mesti dirawat seperti merawat anak dan keluarga sendiri. Karena kesukaan saya terhadap dunia perjalanan, saya belum memiliki waktu untuk mengelola sebuah restoran. Kalau saya pergi-pergi, nanti siapa yang akan merawat anak dan keluarga saya?


D!: Kalau sekolah masak? 

RN: Busyet! Buat sekolah masak? Dan digagas oleh seseorang yang tidak punya basic akademis? Saya pikir itu ide yang sesat. Hahahaha…


D!: Apa kelebihan makanan Indonesia dibanding kuliner luar? 

RN: Indonesia memiliki ragam tradisi kuliner yang sangat kaya, yang kekayaan bahan dan jenis masakannya tidak ada yang memilikinya selain Indonesia. Sayangnya, semua kekayaan yang sangat beragam ini belum kita eksplorasi dan belum diinovasi menjadi ilmu pengetahuan sehingga menjadi materi-materi pelajaran di sekolah-sekolah kuliner dan di jurusan-jurusan teknologi pangan. Beda dengan tetangga kita, misalnya Thailand, Vietnam atau Jepang dan Korea.

Terlalu jauh jika kita bandingkan dengan kuliner Barat yang sudah menjadi seni dan ilmu pengetahuan modern sejak beberapa abad yang lalu. Padahal Indonesia, selain kulinernya yang beragam, juga terkenal dengan Spices Island. Rempah-rempah yang menjadikan Nusantara rebutan bangsa-bangsa Barat dan jauh sebelumnya yang telah mendatangkan pedagang-pedagang India, Cina, Gujarat, Persia dan Arab yang peradaban dan tradisi kulinernya membentuk keragaman budaya, agama dan termasuk tradisi kuliner kita hingga hari ini.


D!: Kenapa ya, sebagian anak muda Indonesia lebih merasa bangga makan di resto/kafe yang menawarkan kuliner internasional dan bagaimana cara membuat mereka lebih nasionalis dengan kulinernya sendiri?

RN: Saya kurang tahu apakah mereka lebih bangga dengan masakan "internasional", jika iya, saya pikir ini akibat dari trend yang berkembang dan gaya hidup yang konsumtif yang dicekoki lewat media, misalnya televisi; sinetron-sinetron dan lain-lain.


D!: Apa kriteria makanan enak menurut Rahung?

RN: Enak dan tidak enak itu urusan lidah masing-masing dan sangat personal. Jika kamu bisa menikmati makanannya, membuat kamu kenyang dan tersenyum dan suatu saat makanan itu membuat kamu rindu dan ingin mencicipinya lagi atau bahkan ingin memasaknya, saya pikir itu enak. Dan itu personal sekali. Sushi yang menurut kamu enak, bisa saja Gohu-gohu ala Maluku menurut lidah saya lebih enak dan nikmat.


D!:  Punya pandangan tertentu mengenai fast food?

RNFast food membantu manusia menyelesaikan persoalannya yang paling dasar akan kebutuhan akan makanan: mengatasi persoalan lapar dengan cepat.


D!: Eniwei, Selama ini kan orang Indonesia pada umumnya selalu beranggapan kalau perempuan harus jago masak, kalau menurut Bang Rahung? Apa maunya punya pasangan yang jago masak?

RN: Pandangan sesaat itu. Jika kamu ke Minahasa, Bali, Toraja dan Tanah Batak, bahkan mulai dari ujung Barat Indonesia, yakni Atjeh, jagoan-jagoan memasak pada saat pesta-pesta adat itu para laki-laki. Jika ada yang menanggap kalau perempuan harus jago masak, mungkin mereka masih hidup di zaman pra sejarah. Soal memasak itu pembagian tugas saja dalam keluarga, dan seperti saya dimasa kecilpun, ibu saya telah mengajari saya memasak. Kalau soal pasangan, nggak juga. Saya ingin pasangan saya jago makan saja dan asal jangan rakus dan menjadi buntet. Kalau dia jago masak juga, nanti di dapur kami ribut bertengkar cara membikin dabu-dabu atau cara mengiris kangkung. Bisa berantakan itu dapur!

SHARE & COMMENT