Sin Po, Surat Kabar Pertama yang Memuat Lagu Indonesia Raya?

31 Jan 2019

 

Kalian pada tau nggak kalo dulu itu namanya koran adalah surat kabar? 

koran-sin-po

Foto oleh Auerellia 02


Halo Pop Patriotics! Hari ini sudah baca koran belum? Kami disini sebenarnya penasaran juga sih, kalian baca koran apa sih? Digital, atau masih suka rasanya megang kertas? Kalau si penulis artikel ini sih sukanya baca yang digital sih, atau Bahasa Indonesia benarnya, surat kabar daring (daring = online). Lebih cepat, terus beritanya biasanya sudah langsung.


Kalian pada tau nggak kalo dulu itu namanya koran adalah surat kabar? Terus, salah satu koran yang paling duluan muncul di Indonesia adalah Koran Sin Po. Surat kabar Tionghoa ini terbit pertama kali pada tahun 1910 menggunakan bahasa Melayu. Terbitnya pertama kali di Jakarta setiap minggu. Berhubung sebentar lagi mau Imlek, ayo kita ngobrol sedikit tentang jasa orang keturunan Tionghoa di Indonesia!


Koran Sin Po ini pada jamannya cukup terkenal, ia dimiliki oleh seseorang dengan keturunan Tionghoa di Indonesia. Di tahun 1912 mereka berubah dari surat kabar mingguan menjadi surat kabar harian. Meski awalnya terbit dalam Bahasa Melayu, mereka juga menerbitkan edisi Bahasa Indonesia. Dari tahun 1925 hingga 1947, Kwee Kek Beng, seorang wartawan terkemuka, menjadi pemimpin redaksi Koran Sin Po. 


Bertahun-tahun, Koran Sin Po ini mencerminkan haluan politik masyarakat kaum Tionghoa yang berada di Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka). Mereka memiliki pendirian bahwa kaum Tionghoa yang berada di daerah Hindia Belanda harus menolak mengikuti politik kolonial Belanda. 


Satu hal yang spesial adalah bahwa Koran Sin Po adalah surat kabar pertama yang menulis teks lagu Indonesia Raya oleh W.R. Supratman di bulan November 1928. W.R. Supratman sendiri adalah wartawan di Koran Sin Po sejak tahun 1925.


Akhirnya, karena ada peraturan pemerintah di bulan Oktober 1958, Surat Kabar Sin Po ini terpaksa mengubah namanya menjadi Pantjawarta yang kemudian berubah nama lagi menjadi Warta Bhakti. Pada tahun 1965, surat kabar Warta Bhakti dilarang terbit pada tanggal 1 Oktober. Berakhirlah kisah Koran Sin Po ini.


koran-sin-po
Foto oleh rawpixel

Bagaimana dengan kalian? Membaca koran itu penting loh buat kita bisa tahu apa yang sedang terjadi di dunia dan juga sekitaran kita. Meskipun sekarang banyak siaran televisi yang sudah meliput berita-berita yang ada di sekeliling kita, koran masih menjadi tujuan orang-orang yang ingin mencari berita mendalam mengenai suatu hal. Baca koran juga yuk! Ayo coba kasih komentar dibawah outlet mana yang kalian suka baca!
SHARE & COMMENT