streatwear indonesia

Mengenang Romantika Soekarno di Ende...

11 Jul 2016

 

Mungkin orang hanya menganggap Ende sebagai kota persinggahan menuju Kelimutu, ladang perburuan kain-kain tenun yang cuaaantik-cuaantiik atau lagi-lagi kota singgah sebelum ke Bajawa untuk melihat Kampung Adat Bena. Semuanya benar sih, tapi ada makna yang lebih dalem lagi dari itu semua! Sesuatu yang bikin darah kamu berdesir tiap kali menginjakkan kaki di sini. Apakah itu? Sebagai salah satu dari beberapa tempat yang menjadi pengasingannya Bapak Proklamator kita; Soekarno, Ende adalah lokasi dimana Soekarno merumuskan Pancasila.

image: alanmalingi.files.wordpress.com


Soekarno diasingkan di Ende selama kurang lebih empat tahun oleh pemerintah kolonial Belanda. Dan pada masa-masa itu Soekarno sering merenung di sebuah taman dekat rumahnya. Di taman inilah Soekarno duduk-duduk di bawah pohon sukun yang entah kenapa dari dulu sampai sekarang hanya memiliki lima cabang! Orang-orang memercayai kalau ini ada kaitannya dengan perumusan jumlah sila dalam Pancasila yang dibikin oleh Soekarno.

Sedihnya sih, tempat ini nggak begitu terjaga dengan baik. Yah, walaupun setiap hari peringatan Pancasila lapangan ini dijadikan tempat pelaksanaan upacara. Oh, ya, romantika Soekarno dan Ende tidak hanya sebatas Pancasila aja. Soekarno juga aktif berkegiatan seni dan menulis naskah-naskah drama. Tercatat ada 12 naskah yang ditulis dan dipentaskannya selama di Ende.


Sebenarnya ke 12 naskah drama ini adalah bentuk perjuangan Soekarno juga. Dalam setiap ceritanya, beliau menyelipkan kisah perjuangan walaupun tak secara langsung melainkan tersirat. Bahkan dari salah satu naskah yang berjudul Rainbow-lah salah satu slogannya yang terkenal “JAS MERAH” (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah) pertama kali tercetus. 


Perkenalan Soekarno dengan Pastor Huijtink, pastor asal Belanda yang bertugas di Ende-Flores banyak membantu tidak hanya dalam hal teman berdiskusi tetapi juga dalam pertemanan sesungguhnya. Sebagai orang yang diasingkan, sulit buat Soekarno untuk memiliki teman yang benar-benar teman. Cap sebagai “orang yang diasingkan” membuat orang menjauhinya. Hanya pastor-pastor paroki saja yang membuka pintu pertemanan selebar-lebarnya.


Pastor Huijtink meminjamkan Gedung Immaculata sebagai tempat Soekarno mementaskan naskah-naskahnya dan ruang kerjanya sebagai ruang untuk Soekarno melahap buku-buku. Kesejatian persahabatan keduanya juga telah menyumbangkan pemikiran toleransi beragama ke Soekarno yang pada akhirnya melahirkan Pancasila. So, kalau ke Ende sempatkan dirimu untuk mengunjungi tempat-tempat romantikanya presiden pertama kita ya dan merenung sudah sejauh mana kita memaknai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?
SHARE & COMMENT