streatwear indonesia

6 Film Perjuangan Era Soekarno Ini Wajib Tonton!

04 Aug 2016

 

Menyambut kemerdekaan, Kineforum di TIM Jakarta menggelar pemutaran film (03 -18 Agustus 2016) dengan tema Sinema Pada Masa Soekarno. Buat kamu yang penasaran dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia pada zaman dulu, semuanya tergambar pada enam film ini, Guys!

1. Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950)

Kalau judul bahasa inggrisnya The Long March atau Blood and Pray. Film yang skenarionya ditulis oleh penyair legenda Indonesia Sitor Situmorang ini adalah film pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia setelah kemerdekaan. Dengan latar belakang perang kemerdekaan, tokoh utamanya adalah Kapten Sudarto yang terlibat cinta segitiga dengan seorang perawat dan perempuan Jerman. Pada 30 Maret 1930, Darah dan Doa diputar perdana yang menjadi tercetusnya Hari Film Nasional. Ini cuplikannya…


2. Enam Djam di Jogja (Usmar Ismail, 1951)
Masih disutradai orang yang sama—Usmar Ismail, bisa dibilang film ini adalah upaya menceritakan kembali peristiwa serangan 1 Maret 1949 di Jogja oleh pasukan Belanda.  Film yang diproduksi satu tahun setelah serangan tersebut terjadi membuat suasana yang digambarkan di film tak jauh beda dengan saat kejadian. Semangat revolusioner dan patriotisme benar-benar bisa dirasakan saat menonton film ini!


3. Embun (D. Djajakusuma, 1951)
Film ini lebih berkisah tentang peristiwa yang terjadi setelah kemerdekaan. Apa yang dilakukan oleh rakyat untuk bertahan hidup. Dan dalam film ini tokoh Leman meminta pinjaman kepada seorang pengusaha yang berujung pada pertengkaran dan mengakibatkan pengusaha tersebut meninggal. Konflik inilah yang menjadi bumbu utama cerita. Cukup menarik sih untuk kita tonton, Guys! 

image: http://cinemapoetica.com/

4. Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954)
Film ini meraih predikat sebagai film terbaik di ajang FFI tahun 1955. Setelah direstorasi, pada tahun 2012 diputar perdana di program Cannes Classics pada pembukaan Festival Film Cannes. Film ini mengambil tema mengenai pemberlakuan jam malam pasca proklamasi kemerdekaan. Jam malam dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak kriminal oleh para bekas pejuang. Karena memang pada tahun 1950 banyak terjadi perampokan yang melibatkan eks pejuang. Film ini berakhir miris sih dengan quote tokoh utama yang menjadi kenangan, Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.


5. Pedjuang (Usmar Ismail, 1960)
Kisah cinta segita menjadi pemanis dalam film ini. Amin seorang pejuang jatuh cinta dengan Irma salah seorang pengungsi. Awalnya Irma menganggap sinis profesi Amin sebagai tentara pejuang. Namun lamat-lamat perasaannya berubah menjadi cinta. Ternyata ada seorang tentara lain bermana Imron yang juga mencintai Irma. Konflik pun terjadi sampai akhirnya terjadi bencana. Untungnya sih, cinta sejati tetap menang dalam film ini. 

image: upload.wikimedia.org


6. Pagar Kawat Berduri (Asrul Sani, 1961)

Cerita tentang beberapa pejuang yang ditahan dalam kamp Belanda. Mereka berusaha melarikan diri namun sekeliling kamp dipasang pagar kawat berduri. Film ini berputar pada persoalan usaha mereka untuk kabur dari tahanan. Tentu saja ada beberapa intrik yang membuat film ini menarik untuk ditonton. Menonton film ini akan menyadarkan kita bagaimana beratnya menjadi pejuang kemerdekaan.

image: http://2.bp.blogspot.com/

SHARE & COMMENT