streatwear indonesia

Mengenal Karapan Sapi Madura, Yuk!

05 Sep 2016

 

Karapan sapi adalah tradisi khas masyarakat Madura yang digelar setiap tahun pada akhir bulan Agustus atau awal bulan September, dan dilombakan lagi untuk final pada akhir bulan September atau Oktober. Nggak cuma jadi ajang lomba, tradisi Karapan Sapi ini juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi prestis, yang bisa ngangkat status sosial seseorang, dan udah jadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Wow!


image: http://scontent.cdninstagram.com 

Sejarah awal mula Karapan Sapi nggak ada yang tau pasti, tapi berdasarkan sumber lisan yang diwariskan turun temurun, diketahui Karapan Sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur buat lahan pertanian. Suatu hari, seorang ulama Sumenep, Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) ngenalin cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal masyarakat Madura dengan sebutan nanggala atau salaga yang ditarik pakai dua ekor sapi. Jadi awalnya mau manfaatin tenaga sapi sebagai pengolah sawah gitu, deh..

image: http://lh4.ggpht.com


Berangkat dari ketekunan bagaimana cara ia membajak sapi bekerja mengolah tanah persawahan yang berhasil dan tanah tandus pun berubah menjadi tanah subur dan membawa hasil positif, tentu masyarakat desa mengikuti jejak Pangerannya. Akhirnya tanah di seluruh Papua Sapudi yang semula gersang jadi tanah subur yang bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah dan jadilah daerah yang subur makmur.

Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Katandur punya inisiatif ngajak warga di desanya untuk ngadain balapan sapi. Area tanah sawah yang udah dipanen dimanfaatin jadi arenanya. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Katandur itu yang sampai sekarang terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Cuma namanya aja yang diganti jadi lebih populer: “Karapan Sapi”.

Buat mereka yang mau ikutan lomba Karapan Sapi harus ngeluarin kocek yang nggak dikit buat melatih dan merawat sapi-sapi yang bakal bertanding. Buat ngebentuk tubuh sepasang sapi yang mau ikut Karapan, diperlukan biaya sampai Rp 4 juta biar sapi-sapinya sehat dan kuat. Sapi-sapi juga dikasih aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari sampai menjelang hari Karapan. Itung-itung perbaikan gizi, ya… Hehehe…

image: http://budaya.ijomuda.com

Ada peran magis religius di ajang Karapan Sapi ini lho, Guys. Ada perhitungan-perhitungan tertentu bagi sang pemilik sapi yang sebelum bertanding ngucapin mantra-mantra tertentu dan ada seorang dukun yang bakal mengusahakannya. Setiap tim pasti punya seorang dukun sebagai “tim ahli” untuk memenangkan perlombaan.

image: https://aws-dist.brta.in

Pada Karapan Sapi ini ada seorang joki dan dua ekor sapi yang di “paksa” berlari sekencang mungkin sampai garis finish. Joki berdiri menarik sejenis kereta kayu sambil ngendaliin gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung selama sepuluh detik sampai satu menit.
image: http://hotelku.co.id/

Pelaksanaan Karapan Sapi terbagi jadi empat babak. Babak pertama, semua sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Di babak ini semua sapi yang menang atau kalah bisa bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya. Babak kedua atau babak pemilihan kembali. Pasangan sapi pada kelompok menang bakal dipertandingkan lagi, sama halnya sapi-sapi di kelompok kalah, pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah nggak boleh bertanding lagi kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.

image: https://cdn.sindonews.net

Babak ketiga atau semifinal, pada babak ini masing-masing sapi yang menang di masing-masing kelompok diadu lagi buat nentuin tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok yang kalah. Babak keempat inilah finalnya. Sapi-sapi diaduin lagi buat nentuin juara 1, 2, dan 3 dari kelompok kalah. Piala Presiden inilah yang cuma dikasih ke juara kelompok yang menang.

Pengertian kata karapan adalah adu sapi memakai kalelesKaleles adalah sarana pelengkap buat dinaiki sais atau joki yang menurut istilah Madura disebut tukang tongko. Sapi-sapi yang bakal dipacu dipertautkan dengan pangonong pada leher-lehernya sehingga jadi pasangan yang satu. Aaaaww..
image: http://3.bp.blogspot.com

Pada waktu akan dilombakan, pemilik sapi kerap harus nyiapin tukang tongkotukang tambeng yang bertugas menahan, membuka dan melepaskan rintangan untuk berpacu, tukang gettak yang bertugas menggertak sapi agar berlari lebih cepat, tukang gubra yaitu orang-orang yang bersorak sorai di tepi lapangan, tukang ngeba tali yakni pembawa tali kendali sapi dari start sampai finishtukang nyandak yaitu orang yang bertugas menghentikan lari sapi setelah sampai garis finish, dan tukang tonja, orang yang bertugas menuntun sapi. Banyak juga ya Guys, tim horenya…
image: http://kabarsurabaya.com


Beberapa peralatan yang penting dalam Karapan Sapi yaitu kaleles dan pangonongpangangguy dan rarenggan (pakaian dan perhiasan), rokong (alat buat mengejutkan sapi agar berlari cepat). Dalam Karapan Sapi juga nggak ketinggalan adanya saronen, yaitu perangkat instrumen penggiring Karapan. Perangkatnya terdiri dari saronen, gendang, kenongkempul, krecek, dan gong. Meriah ya!

image : http://2.bp.blogspot.com


Kaleles sebagai sarana karapan yang dinaiki tokang tongko dari waktu ke waktu mengalami berbagai perkembangan dan perubahan. Kaleles yang dipakai dipilih yang ringan biar sapi bisa lari semaksimal mungkin, tapi tetap kuat buat dinaiki tokang tongko.

Sapi kerap adalah sapi pilihan dengan ciri-ciri tertentu. Misalnya berdada air artinya kecil ke bawah, berpunggung panjang, berkuku rapat, tegar tegak serta kokoh, berekor panjang dan gemuk. Sapi kerap ada tiga macam, yaitu sapi “cepat panas”, cuma diolesi bedak panas dan obat-obatan bisa cepat “panas”. Sapi “dingin”, yang apabila bakal dikerap harus dicemeti berkali-kali, dan sapi “kowat kaso”, yang kuat lelah, memerlukan pemanasan dulu.

image : https://aws-dist.brta.in

Umumnya pesta rakyat, penyelenggaraan Karapan Sapi sangat diminati masyarakat Madura. Dalam pesta rakyat ini berbagai kalangan berbaur jadi satu dalam atmosfir sportivitas dan kegembiraan. Sisi lain yang menarik penonton dari Karapan Sapi adalah kesempatan untuk memasang taruhan antarsesama penonton. Jumlah taruhannya pun bervariasi, mulai dari yang kelas seribu rupiahan sampai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Biasanya penonton yang berdiri disepanjang arena taruhannya kecil, nggak sampai jutaan. Tapi para petaruh besar, sebagian besar duduk di podium atau hanya melihat dari tempat kejauhan. Transaksinya dilakukan di luar arena, dan biasanya berlangsung malam hari sebelum Karapan Sapi dimulai.

image: dist.brta.in/

Tapi ada yang nggak oke nih, Guys. Berdasarkan tradisi masyarakat pemilik sapi karapan, menjelang sapi diterjunkan ke arena, sapi dilukai di bagian pantatnya dengan cara diparut pakai paku sampai kulitnya berdarah biar sapi bisa berlari cepat. Bahkan luka itu diberi sambal atau balsem yang dioles-oleskan di bagian tubuh tertentu antara lain di sekitar mata. Hiii… Kasihan ya, Guys… Dari situlah, meski udah bertahun-tahun diadakan dan menjadi tradisi, pelaksanaan Karapan Sapi ini tetap menuai kritik dari berbagai pihak, seperti Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah daerah Madura karena tradisi kekerasan rekeng yang dilakukan oleh para pemilik sapi.

MUI Pamekasan pun sudah memfatwakan haram soal tradisi rekeng ini karena dinilai menyakiti sapi. Begitupun Gubernur Jawa Timur yang melalui Instruksi Gubernur udah nyatain pelanggaran tradisi rekeng. Tapi walau demikian, tradisi ini tetap berlanjut di kalangan para pelaku Karapan Sapi sampai sekarang.


Kalau di daerah kalian, apa nih yang jadi tradisi andalan, Guys? Share sama kita ya!

SHARE & COMMENT
Anonymous - Tue, 03 Apr 2018 tau nggak, penyelenggaranya itu siapa?