streatwear indonesia

Nggak Sembarang Gundul, Ini Lho Makna Lagu Gundul Gundul Pacul

20 Sep 2016

 

“Gundul-gundul pacul cul, gembelengan...

Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan...

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar,

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...”

Pop Patriotics pasti udah nggak asing sama lagu anak-anak satu ini. Nggak cuma di Jawa aja lagu ini terkenal, tapi seluruh Indonesia! Inget nggak sih, zaman SD dulu lagu ini bahkan jadi lagu wajib yang harus bisa dinyanyiin? D! aja hafal lagu ini. Hehehe... Penciptanya adalah R.C. Hardjosubroto. Namun konon katanya lagu ini diciptain pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya pas masih remaja. Tapi lagu ini bukan sembarang lagu lho, Guys. Lagu dengan lirik sederhana dan nada yang catchy ini punya makna yang dalem banget tentang hal kepemimpinan. Bagaimana bisa? Yuk, kita kulik!

image: 140.tinypic.com

Gundul artinya kepala. Orang Jawa bahkan kita, sering banget pake istilah ini buat kepala yang nggak ada rambutnya alias botak alias plontos. Dewasa ini, kita nganggep rambut layaknya mahkota dan mahkota adalah lambang kehormatan. Jadi kalo nggak punya rambut atau gundul, artinya kehormatan tanpa mahkota.

image: kesolo.com

Pacul mengacu pada cangkul, atau alat yang biasa dipake petani. Terbuat dari lempeng besi segi empat, pada tau dong? Nah cangkul disini dimaknai sebagai lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani. Jadi kalo disatuin gundul-gundul pacul punya arti: seorang pemimpin itu sebenernya bukan orang yang dikasi mahkota tapi sebagai pembawa pacul buat mencangkul, yang mengupayakan kesejahteraan buat rakyatnya.

Tapi kalau orang Jawa mengartikan pacul sebagai papat kang ucul atau empat yang lepas. Artinya kemuliaan seseorang bakal tergantung banget sama empat hal: bagaimana menggunakan mata, telinga, hidung, dan mulutnya. Dimana mata digunakan buat melihat kesusahan rakyat, telinga buat mendengar nasihat, hidung buat mencium harumnya kebaikan, mulut buat berkata-kata adil. Kalau ke-empat hal itu lepas, maka lepaslah juga kehormatannya.

Kemudian gembelengan artinya besar kepala, sombong, dan suka main-main sama kehormatannya. Banyak pemimpin yang suka lupa kalau dirinya itu mengemban amanah rakyat. Tapi dia malah pake kekuasaannya buat kemuliaan dirinya sendiri dan dia jadi nganggep kekuasaan yang dimiliki itu berasal dari kepandaiannya.

Kalau nyunggi-nyunggi wakul-kul itu maksudnya bawa bakul atau tempat nasi di kepala. Wakul sendiri melambangkan kesejahteraan rakyat, kekayaan negara, sumber daya, pajak, dan sebagainya. Nah ini, banyak pemimpin yang lupa kalau doi tuh ngemban amanah penting dengan membawa bakul di kepalanya. Artinya, kepala yang dia anggep kehormatannya itu berada di bawah bakul milik rakyat. Yang punya bakul pasti lebih tinggi kedudukannya dibanding pembawa bakul, dong. Karena kan dia cuma bantuin bawa. Tapi sekarang banyak banget pemimpin yang masih gembelengan, lenggak lenggok sombong, bahkan nggak serius sama kedudukannya.

Akibatnya ya wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Bakul terguling dan nasi jadi tumpah kemana-mana. Artinya, kalau pemimpin gembelengan, sumber daya jadi tumpah, nggak tersalurkan dengan baik, dan kesenjangan jadi tumbuh dimana-mana. Nasi yang udah tumpah ke tanah itu jadi mubazir, nggak bisa dimakan lagi karena kotor.

Sooo... Kesimpulannya adalah gundul-gundul pacul-cul berarti orang yang nggak menggunakan ke-empat inderanya dengan baik bisa mengakibatkan gembelengan atau kesombongan. Sedangkan nyunggi-nyunggi wakul-kul berarti siapa yang melaksanakan amanah rakyatnya dengan gembelengan atau sombong, bisa wakul ngglimpang atau amanahnya bisa jatuh dan nggak bisa dipertahankan jadinya segane dadi sak latar, kepemimpinan sia-sia, nggak bermanfaat buat kesejahteraan rakyat.

Begitulah artinya lagu Gundul-Gundul Pacul, Guys. Dalem juga ya filosofinya. Dari lagu ini kita bisa belajar bagaimana jadi pemimpin yang nggak sembrono dan yang penting, mikirin dan ngusahain kesejahteraan rakyat.

Jadi kalau di bahasa Indonesia kan, jadi begini...

“Gundul gundul cangkul, sembrono...

Membawa bakul (diatas kepala) dengan sembrono...

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman,

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman...”


Nggak mau 'kan jadi pemimpin yang gembelengan dan jadi segane dadi sak latar?


SHARE & COMMENT
Anonymous - Sun, 20 May 2018 Mendapat Sedikit Ilmu Makasih Gan HEHE :)