damniloveindonesia

Menuju Gerbang Keabadian Tana Toraja


26 Sep 2016

Posted By Damn! I Love Indonesia (Natalya Wijaya)

 

“Toraja ibarat surga titipan Tuhan di Indonesia yang menyimpan keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa dan nggak ada di belahan dunia manapun. Karena itu, jangan mati sebelum ke Toraja,” - Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan.

image: http://www.tripinasia.com/

Suku asli di Sulawesi Selatan ini terkenal banget sama budaya dan keunikannya sampai mancanegara dan sukar dicari tandingannya di dunia. Menurut mitos yang diceritain dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan menggunakan tangga, dimana tangga ini fungsinya sebagai media komunikasi dengan satu-satunya Tuhan atau Puang Matua.

Nama Toraja pertama kali dikasih sama Suku Bugis Sidenreng yang menyebut penduduk yang tinggal di daerah ini sebagai “Riaja” atau orang yang mendiami pegunungan. Sementara rakyat Luwu menyebut mereka “Riajang” atau orang-orang yang mendiami daerah barat.

image: http://wisatasulawesi.com/

Lainnya menyebut bahwa Toraja berasal dari kata “Toraya”, artinya Tau: orang dan Raya atau Maraya berarti besar. Gabungan dua kata ini ngasih arti “orang-orang hebat” atau “manusia mulia”. Berikutnya istilah yang lebih sering dipakai adalah sebutan Toraja, kata “tana” sendiri berarti daerah. Jadi, penduduk dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja.

Toraja nyimpen tradisi unik yang masih tetap terjaga dan diwarisin turun temurun. Upacara kematian dan penyimpanan jenazah di bukit-bukit sekitar desa selalu narik perhatian turis. Daya tarik Kabupaten Toraja Utara ini emang dimanfaatin banget buat narik wisatawan sekaligus menyejahterakan masyarakat dari sektor pariwisatanya.

image: http://en.gocelebes.com/

Salah satu upacara adat yang menarik perhatian turis adalah ritual Rambu Solo. Upacara Rambu Solo bertujuan buat menghormati dan mengantarkan arwah orang yang udah meninggal menuju alam roh. Bahkan, masyarakat Toraja percaya, upacara Rambu Solo sebagai penyempurnaan kematian seseorang.

image: http://www.monyetnyengir.com/

Masyarakat Toraja percaya, tanpa upacara Rambu Solo ini arwah orang yang meninggal akan ngasih kemalangan ke orang-orang yang ditinggalin. Orang yang meninggal dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan nyediain makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.

www.torajaparadise.com

Upacara pemakaman Rambu Solo adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang nggak sedikit dan persiapan selama berbulan-bulan. Sementara nungguin upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.

image: http://indonesiawow.com/

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia bakal pulkam (pulang kampung) buat partisipasi dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut juga diikuti sama kunjungan wisatawan mancanegara.

image: http://www.coklatkita.com/

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja atau Aluk To Dolo ada prinsip dimana semakin tinggi letak tempat jenazah, maka makin cepat juga rohnya buat sampai ke nirwana. Buat kalangan bangsawan yang meninggal, mereka bakal motong kerbau dengan jumlah 24 sampai 100 ekor sebagai kurban atau Ma’tinggoro Tedong. Satu di antaranya bahkan kerbau belang yang sangat mahal harganya. Upacara pemotongan ini jadi satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau pakai sebilah parang dalam sekali ayunan. Kerbau pun langsung terkapar seketika.

image: http://3.bp.blogspot.com/

Selain upacara adat Rambu Solo, di Tana Toraja juga terdapat Kuburan Bayi Kambira atau disebut juga Passiliran, yang berlokasi di Kambira. Di kuburan ini, hanya bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra’. Bayi-bayi tersebut dianggap masih suci dan pohon Tarra’ dianggap sebagai pekuburan karena pohon ini punya banyak getah, yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Mereka juga menganggap seakan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya sekaligus berharap, pengembalian bayi ke rahim ibunya ini akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian.

image: http://lh3.ggpht.com/

Pohon Tarra’ yang jadi pekuburan ini punya diameter yang cukup besar, sekitar 80-100 cm sampai 300 cm. Bagian pohon dibuat lubang buat menguburkan bayi, yang kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Pemakaman ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo atau kepercayaan kepada leluhur. Pelaksanaan upacara ini sangat sederhana. Bayi dikubur tanpa dibungkus, ibarat bayi yang berada di rahim ibunya.

image: https://insearchofmakassartoraja.files.wordpress.com

Penempatan jenazah bayi di pohon ini sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu, maka makin tinggi letak bayi yang dikubur di batang pohon Tarra’. Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi akan menyatu dengan pohon.


Nah itu tadi ritual dan tradisi unik Tana Toraja. So, Guys... Udah tau destinasi liburan selanjutnya?



COMMENT


Musim Hujan, Enaknya Cemal-Cemil Camilan Khas Indonesia Ini ❮ Prev Article
Belajar Keep Moving Forward Dari Permainan Egrang Next Article ❯
RELATED POST
SHOP THE PRODUCTS
Hoodie Damn! Signature Ma...
IDR IDR 349.000
Sticker Sign Damn! Black ...
IDR IDR 35.000
Damn! Signature Male Red ...
IDR IDR 220.000
Tee Korea Black HD Silver...
IDR IDR 230.000