streatwear indonesia

Cium Hidung Pas Ketemu di Pulau Sabu

07 Nov 2016

 

Setiap manusia di dunia (kok jadi kayak lagunya Sherina?) pasti punya cara atau tradisi kala menyapa atau bertemu orang lain. Contoh di Indonesia pada umumnya kalau ketemu ya berjabat tangan, kalau di Italia cium pipi kanan dan pipi kiri. Tapi itu biasa, Guys. Di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, ada Suku Sabu yang punya tradisi unik kalau ketemu orang lain. Cium hidung satu sama lain! Kapan aja, dimana aja, sama siapa aja.

Image: https://www.goodnewsfromindonesia.id

Dalam bahasa setempat, tradisi unik ini disebutnya Henge’do. Mungkin Pop Patriotics mikir kok aneh ya. Tapi menurut D! ini unik banget dan emang beginilah cara masyarakat Sabu kalau menyambut dan bertemu seseorang. Aaaaww...

Tradisi cium hidung ini bukan sembarang tradisi lho, Guys. Tapi punya makna yang lumayan dalem, yaitu keakraban dan rasa keterikatan antara yang satu dengan yang lain dengan makna persaudaraan. Hidung ‘kan alat pernapasan, berarti kehidupan. Dengan menanamkan filosofi itu, masyarakat Sabu memaknai tradisi ini sebagai unsur yang bisa menghidupkan rasa kekeluargaan dua orang yang bertemu, walaupun baru pertama kali ketemuan, cieee...

Image: http://scontent.cdninstagram.com/

Henge’do ini dilakuin dengan cara nempelin hidung satu sama lain dan tradisi ini nggak mandang jenis kelamin, status, strata sosial, usia. Selain tanda persaudaraan, cium hidung ini juga jadi tanda penghormatan dari yang muda kepada yang tua dan sebagai tanda kejujuran. Pas cium hidung, nggak bisa dipungkiri kalau kedua mata bakal saling bertemu dan disanalah bisa terlihat pandangan mata terbuka yang ngegambarin kejujuran antara yang satu dengan yang lain.

Sampai sekarang, tradisi unik ini masih terus dilestariin sama masyarakat Sabu dan suku-suku lain yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur kayak Rote, Sumba, Timor, dan lainnya. Cium hidung juga jadi salam yang khas dari masyarakat NTT kalau ketemu sama orang NTT juga.


Gimana menurut kalian, Pop Patriotics? Unik ‘kan tradisinya? Apa di Jakarta kita mulai terapin tradisi ini yaaa...

SHARE & COMMENT