damniloveindonesia

Memperingati 12 Tahun Tsunami Aceh, Ini Kisah 5 Korban Yang Selamat


26 Dec 2016

Posted By Damn! I Love Indonesia (Natalya Wijaya)

 

Masih teringat jelas di memori kita bagaimana gempa besar disusul gulungan air laut meluluhlantakkan Aceh tepat 12 tahun lalu. Bencana tsunami tanggal 26 Desember 2004 itu pun masih menyisakan duka para korban dan tentunya, kita bangsa Indonesia. Peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh juga menyisakan kisah-kisah menakjubkan dari para korban selamat, seperti yang Damn! lansir dari liputan6.com ini :

Image: http://cdn.img.print.kompas.com/

1. Martunis

Hari Minggu pagi, 26 Desember 2004, ada satu bocah yang tengah bermain sepak bola di lapangan belakang rumahnya dengan mengenakan kaos timnas Portugal bernomor punggung 10, tercantum nama bintang sepak bola dunia, Rui Costa. Gempa berkekuatan 9,1 skala Richter pun menghentikan dia dan temannya yang lagi main sepak bola. Nggak lama, mobil yang ia tumpangi dihantam gelombang raksasa yang bikin ia terpisah dari ibu dan tiga saudaranya. Timbul tenggelam, akhirnya Martunis meraih sebuah kasur dan naik ke atasnya.

Image: http://www.101greatgoals.com/

Nggak bertahan lama, kasur pun tenggelam dan Martunis meraih batang pohon yang hanyut. Arus membawa Martunis sampai akhirnya ia pingsan dan pas sadar, dia nyangkut di atas pohon bakau di kawasan Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Martunis bertahan 21 hari di atas pepohonan dan bertahan hidup dengan memungut makanan dan air mineral yang terseret gelombang. Di hari ke-21, Martunis ditemuin oleh dua orang pria yang lagi nyari keluarganya di kawasan tersebut. Kemudian Martunis diserahkan ke wartawan Sky News yang waktu itu lagi ngeliput bencana tsunami di kawasan Deah Raya.

2. Mak Sum

Mak Sum atau Umi Kalsum, berusia 58 tahun, adalah salah satu korban selamat dari tsunami Aceh 2004 silam. Umi Kalsum pada tanggal 26 Desember 2004 siang kala itu sedang asik menanam bunga di pekarangan rumahnya di Desa Alu Naga, Kabupaten Aceh Besar. Tiba-tiba gempa bumi mengguncang Aceh dan orang-orang pun berlarian sambil berteriak air laut naik. Belum jauh berlari, tubuh Mak Sum pun dihantam gelombang tsunami. Mak Sum pun nggak sadarin diri dan terombang-ambing gelombang.

Image: https://akcdn.detik.net.id

“Saya sadar pertama udah di jembatan ini (Jembatan Kajhu), ya subhanallah mulut ular itu di depan mata saya, tubuh saya itu dililitnya,” kata Umi Kalsum. Ular tersebut sebesar tiang listrik, yang awalnya dikira Umi adalah batang pisang. “Warnanya loreng, sampai di jembatan itu saya udah sadar. Begitu liat kepala ular, ya subhanallah, saya cuma berucap selamatkan saya ke darat ya meutuah (mulia),” kenang Umi. Kemudian tiba-tiba ular tersebut melepaskan badan Umi dan pergi entah kemana setelah menyelamatkan Umi.

3. Noni dan Nina

Kakak beradik Noni Delfina dan Nina Delfina adalah dua korban selamat tsunami yang menerjang Tanah Rencong 12 tahun silam. Ketika tsunami mulai datang, Noni dan Nina ninggalin rumah mereka tetapi mereka terpisah. Nina menumpang sepeda motor dan Noni pergi dengan sepedanya. Sebelum terpisah, Nina sempet ngeliat Noni kecapekan menaiki sepedanya. 

Image: http://cdn.gresnews.com/

Setelah berjuang selama lima jam, akhirnya Nina bisa menyelamatkan diri. Nina terseret ke lantai dua sebuah bangunan, kemudian ia beristirahat dan berdoa. Setelah itu, Nina berenang menuju bukit. Noni dan Nina sama-sama menyukai pantai dan peselancar. Mereka pun memahami air dan bisa berenang. Namun ia masih mengingat bagaimana ia berenang di tengah gelombang tsunami, melewati tubuh manusia dan sampah.

4. Fanisa

Selama sepuluh tahun menghilang, akhirnya Fanisa Rizkiam kembali ke kampung halamannya di Aceh. Fanisa, yang kini berusia 17 tahun dipulanhkan dari Malaysia, tepatnya 19 Desember 2014 lalu. Fanisa adalah salah satu korban tsunami Aceh yang selamat. 

Image: http://cdn0-a.production.images.static6.com/

Kala itu, Fanisa baru berusia lima tahun saat bencana tsunami menerjang Aceh dan membuat dirinya terpisah dari orangtua dan keluarganya. Tanpa bisa mengingat kejadiannya, Fanisa kemudian tinggal dan jadi TKI di Malaysia. Keberadaan Fanisa diketahui setelah pemerintah Aceh dapet informasi dari KBRI di Malaysia bahwa ada anak di bawah umur asal Aceh yang diperkerjakan jadi TKI.

5. Aliya

Perempuan berusia 24 tahun yang merupakan warga Meureudu, Pidie Jaya, Aceh ini kehilangan ayah dan dua saudaranya saat tsunami 12 tahun lalu. Aliya sebenernya nggak tau nasib ayah dan dua saudaranya, apakah tersapu tsunami dan selamat atau terkubur bersama korban lainnya. Tapi Aliya biasanya keliling ke kuburan-kuburan massal untuk berziarah. Kini Aliya tinggal bersama umi dan neneknya.


Itu tadi Guys beberapa kisah korban selamat dari gempa dan tsunami Aceh 12 tahun lalu silam... Semoga keluarga yang kehilangan diberikan ketabahan dan mari bersama membangun Aceh agar kokoh seperti sedia kala.



COMMENT


10 Barang Ini Wajib Ada di Tas Kamu Pas Liburan! ❮ Prev Article
Hmm... Kira-Kira Makanan Apa Ya Yang Bakal Jadi Tren di Tahun 2017? Next Article ❯
RELATED POST
SHOP THE PRODUCTS
Tee Epic 1945 White Male
IDR IDR 250.000
Sticker Sign Damn! Grey L...
IDR IDR 35.000
Tee Sign Junior Black HD ...
IDR IDR 220.000
Damn! Signature Male Red ...
IDR IDR 220.000