streatwear indonesia

Cari Tahu Filosofi di Balik Kuliner Solo

11 Jan 2016

 

Tahu nggak Pop Patriotics, kalau nasi tumpeng memiliki filosofi dan historis yang deep banget? Nggak hanya sekadar makanan tapi ada makna dalam pembuatannya. Plus, ternyata penyebutan “potong tumpeng” nggak seutuhnya bener lho, sesuai dengan filosofinya yang tepat adalah mengeruk tumpeng.

Penjelasannya begini nih, Pop Patriotics, nasi tumpeng melambangkan gunung ataupun alam dan sejatinya kalau kita “memotong” pengertiannya lebih kepada eksploitasi seakan kita menggunakan alam untuk memperkaya diri. Yang seharusnya adalah “mengeruk” karena makna mengeruk lebih ke mengambil alam untuk mencukupi diri bukan untuk memperkaya diri. Well, informatif banget kan, Pop Patriotics?

D! dapetin info ini dari Swan Kumarga alias Bu Swan, pemilik Dapur Solo—restoran dengan kuliner tradisional Solo, sekaligus pegiat kuliner tradisional Indonesia khususnya makanan khas Solo. “Setiap makanan memiliki hubungan erat dengan kebudayaan setempat,” kata Bu Swan. Setiap makanan tradisional punya cerita. Ini yang membuat menikmati kuliner daerah bukan soal mengunyah makanan saja tetapi juga mencicipi sejarah di balik kuliner tersebut. So, guys ini dia beberapa kuliner Solo yang nggak hanya enak tapi punya historis dalem yang akan memperkaya pengetahuan kita akan kuliner nusantara! 

1. Nasi Liwet Solo

Di kota asalnya menu ini menjadi sarapan sehari-hari dan dijual berkeliling menggunakan sepeda. Dua panci digendong dan kantongan sambalnya ditenteng dan didagangkan oleh ibu-ibu. Uniknya, masing-masing penjual punya daerah jualannya sendiri. Si A nggak boleh jualan di kawasan si B. Nggak ada peraturan tertulis sih, tapi semacam kode etik tahu sama tahu aja. Isinya juga menggiurkan, nasi dengan suwiran ayam, sayur labu dan tempe ini kuliner yang khas banget di Solo.


2. Cabuk Rambak

Menu satu ini udah lumayan langka. Konsepnya sederhana sih tapi berkesan. Isiannya adalah lontong yang diguyur kuah pecal, kerupuk gendar (nasi kering—red). Kaya karbohidrat, jadi Indonesia banget hehehe…


3. Selat Solo

Kuliner yang satu ini termasuk makanan ringan yang biasa dimakan sore sebelum makan malam. Isiannya ada daging has, telur, kentang dan keripik pedas. Kalau kita lihat sekilas mirip bistik. Nggak hanya orang barat aja nih yang punya bistik, kita juga punya! 


4. Brambang Asem

Yang bikin beda dari Brambang Asem adalah tempe gembhusnya. Tempe gembush ini adalah tempe yang terbuat dari ampas tahu. Orang-orang dulu memang kreatif banget, untuk memenuhi kebutuhan dapur memaksimalkan bahan salah satunya mengolah ampas tahu menjadi makanan enak. Isian yang lain adalah daun talas, sambal gula merah yang diguyur. Sejenis rujak tapi isinya sayuran. Sayang, menu ini juga termasuk langka karena stok daun talas susah didapet.


5. Wedang Uwuh & Wedang Ronde

Sebelum menjadi minuman rakyat, Wedang Uwuh ini minuman raja-raja Imogiri Yogyakarta dan menyebar sampai ke Solo. Racikan dari menu ini berupa herbal yang dikeringkan seperti jahe, secang, cengkeh, bunga cengkeh, akar sereh, daun sereh, kapulaga, pokoknya rame banget sehingga menyerupai sampah. Khasiatnya menghangatkan tubuh, meningkatkan stamina, pokoknya pas banget untuk kesehatan. Seiring perkembangan zaman, minuman ini nggak hanya dikonsumsi oleh raja-raja aja tapi juga rakyat biasa. Oh, ya Wedang Uwuh ini paling mantap kalau diminum dengan gula batu.



Kalau Wedang Ronde walaupun namanya hampir sama tapi aslinya beda banget. Wedang Ronde adalah paduan budaya Jawa dan Tionghoa. Biasanya 10 hari setelah perayaan Imlek ada yang namanya Festival Ronde. Kalau Wedang Ronde yang udah berakulturasi ini menggunakan jahe racikan. 


6. Serabi Solo

Serabi Solo beda dengan Serabi Bandung. Sebenarnya sih, Serabi mirip Kue Ape, penyajiannya saja yang agak beda plus bermacam rasa, seperti cokelat dan keju. Dulunya sih, Serabi Solo dijual pagi-pagi banget, mulai jam 3 untuk sarapan. Kalau Pop Patriotics tau Serabi paling terkenal Serabi Notosuman dulunya jualan jam 3 pagi dan yang mau beli antrenya panjang bahkan bisa sampai kehabisan. Serabi ini pun dulunya hanya jualan pagi aja. Namun lagi-lagi perubahan zaman membuat hal-hal yang sifatnya tradisional menjadi tergusur. Serabi nggak lagi dimakan pagi hari sebagai sarapan tetapi juga siang, sore sebagai kudapan.

Sebenarnya kebiasaan penjual Serabi menjual dagangannya pagi-pagi buta karena kebiasaan mereka yang selalu bangun pagi sebelum ayam berkokok. Sayangnya budaya bangun pagi ini udah nggak menjadi kebiasaan lagi, sehingga ada pergeseran waktu mengenai kapan penjual Serabi membuka dagangannya.


7. Tengkleng Kambing

Tengkleng Kambing adalah salah satu menu favorit asal Solo. Buat yang belum tahu cara menikmati Tengkleng Kambing yang perfect banget adalah….pegang tulangnya, gigit dagingnya, terakhir sedot sum-sum tulangnya sluuurp.  Kegurihan daging, kuahnya yang kental dan berlemak adalah sesuatu yang dinanti-nantikan penikmat Tengkleng Kambing. 


Btw, semua kuliner ini bisa kita temui di Dapur Solo, salah satu restoran khas Solo yang berdiri sejak 1988 dan sudah ada di beberapa lokasi di Jakarta, Sunter, Matraman, Panglima Polim dan BSD. Wanna try? (Images: Dok. Dapur Solo)

SHARE & COMMENT