Jakarta Jadi Tempat Unjuk Gigi 70 Seniman Dunia di Biennale 2015

19 Jan 2016

 

Benar banget! Pilih maju ataupun mundur kita bakal “kena” alias ketemu dengan instalasi seni baru. Entah itu tong dengan kucuran air muncrat—yang bisa merepresentasikan banyak hal; konsumsi minyak yang sudah nggak terkontrol ataupun limbah minyak yang sudah merusak lingkungan. Ada juga pemutaran film dokumenter yang mengajarkan kita tentang makna hidup yang dalem. Di sudut berbeda kita bakal disambut jejeran foto yang menampakkan wajah Jakarta.

  

Beneran deh! Nyesal banget kalau Pop Patriotics nggak datang ke Jakarta Biennale 2015; Maju Kena, Mundur Kena, Bertindak Sekarang (15 November 2015 – 17 Januari 2016) yang diadakan di Gudang Sarinah, Pancoran ini. Ada banyak aktivitas, pameran, lokakarya, penampilan musik kreatif, pasar loak, art tour--sampai bingung milih yang mana. Makanya dengan durasi yang panjang diharapkan penikmat seni mendapat cukup waktu untuk melihat semua isi pameran.  Seperti quote dari pelukis asal Amerika, Robert Motherwell yang mengatakan, art is much less important than life, but what a poor life without it!

Tahun ini Jakarta Biennale melibatkan 70 seniman baik kelompok maupun individu, terdiri dari 42 seniman dari Indonesia dan 28 seniman manca negara. Karya-karya yang dipamerkan fokus pada permasalahan ekonomi, sosial, lingkungan dan dinamika masyarakat saat ini.  Melalui karya-karya tersebut, Jakarta Biennale juga ingin menyoroti pencapaian-pencapaian warga kota, sekecil apa pun bentuknya, di tengah dinamika hidup yang semakin rumit. Hahaha berat beud ya bahasanya. 

  


Salah satu topik paling hangat dan menyita perhatian dalam rangkaian pameran kali ini adalah tema gender. Maika Elan seniman asal Hanoi yang terlibat dalam Jakarta Biennale mengambil tema The Pink Choice sebagai karya yang ditampilkannya dalam pameran. Maika menampilkan foto-foto yang merekam keseharian pasangan Gay/Lesbian/Transgender. Foto-foto sengaja dicetak dalam bentuk kecil supaya yang ingin melihat jelas, datang mendekat. Sebenarnya ini bentuk sindiran halus Maika buat orang-orang yang lebih memilih menghakimi suatu hal ketimbang berjalan mendekat untuk mengerti apa yang sedang dihadapi orang lainnya.

  


Sebagian karya cukup rumit untuk dipahami tapi seni nggak selamanya dilihat dengan mata tapi harus menggunakan hati. Kenapa? Karena nggak semua yang terbaca mata menampilkan sesungguhnya. Perlu hati untuk memaknai dan memahami setiap cerita ataupun pesan yang tersirat di dalamnya.

SHARE & COMMENT