streatwear indonesia

Belajar Arti Toleransi Lewat Keberadaan 5 Gender di Sulawesi Selatan...

27 Jul 2016

 

Masyarakat pada umumnya hanya mengakui dua gender yaitu laki-laki dan perempuan. Dan di luar dari keduanya sering dianggap menyalahi norma dan tidak dianggap secara hukum maupun sosial. Tapi kalau kita menilik ke belakang berdasarkan sejarah kebudayaan Indonesia, ternyata gender bisa bersifat "cair" alias dinamis. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

image: http://i.vimeocdn.com/

Tema inilah yang diangkat dalam film dokumenter Calalai in Betweenness  yang diputar di Kineforum, Senin (25/07). Catatan sejarah dan kebudayaan menuliskan, masyarakat Sulawesi Selatan mengenal 5 genderuruane (laki-laki), makunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki), calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan) dan bissu (memiliki dua elemen gender perempuan dan laki-laki yang juga mampu berkomunikasi dua alam).

Kelima gender ini seumpama lima jari. Jempol melambangkan makunrai, telunjuk calabai, jari tengah bissu, jari manis calalai dan kelingking uruane. Pun, lima gender ini juga merupakan miniatur dari Botti Langi’ dan Buri’ Liu. Prof. Dr. Nurhayati Rahman (Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar dan Filolog Bugis Kuno) yang menjadi narasumber dalam film dokumenter tersebut dalam rekaman film mengatakan Botti Langi’ melambangkan maskulinitas sedangkan Buri’ Liu melambangkan feminitas. Perkawinan antara maskulinitas “kelingking” dan “jempol” melahirkan dunia tengah. Dan tarik-menarik antara keduanya menciptakan keseimbangan.

image: http://america.aljazeera.com/

Sesungguhnya melihat bagaimana masyarakat Bugis zaman dulu menempatkan konsep yang begitu dinamis mengenai gender adalah cerminan betapa dalamnya pemahaman orang dulu mengenai kompleksitas manusia. Bagaimana penerimaan mengenai perbedaan jauh lebih terbuka zaman dulu ketimbang sekarang.

Ada pepatah Bugis yang mengatakan, mau’ ni waraoane’mua na makkunrai sipa’na, makkunrai mui; mau’ni makkunrai mui; mau’ni makkunrai na waroane’sipa ‘na, waroane mui yang artinya “meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan, yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki.)

Selain memberikan deskripsi mengenai fenomena kelima gender—terutama calalai, film yang disutradarai oleh Kiki Febriyanti ini juga memberikan fakta menarik tentang naskah klasik La Galigo, ditulis abad ke 13 yang konon merupakan naskah epik terpanjang di dunia bahkan ada sebelum Mahabharata

Penasaran? Filmnya masih diputar kok di Kineforum, ini jadwalnya:

SHARE & COMMENT